KyaiHaji Yahya Syabrawi Ganjaran Gondanglegi Malang - Perusahaan Indonesia dengan nomor registrasi 50/31969 /AD diterbitkan pada tahun 2014.
Genealogyfor Kyai Haji Yahya . (deceased) family tree on Geni, with over 230 million profiles of ancestors and living relatives. People Projects Discussions SurnamesYahya Cholil Staquf serves as General Chairman of the Nahdlatul Ulama NU, or “Awakening of Scholars” Central Board. As the world’s largest Muslim organisation—with over 90 million members and 21,000 madrasahs—the Nahdlatul Ulama adheres to the traditions of Sunni Islam, and teaches that the primary message of Islam is universal love and compassion. Personal Education Mr. Staquf is descended from a long and illustrious line of Javanese ulama and was educated from earliest childhood in the formal and esoteric spiritual sciences of Islam, Mr. Staquf later became a disciple of venerated Islamic scholar and head of the NU Supreme Council, KH. Ali Maksum 1915–1989, and of long-time NU Chairman and Indonesia’s first democratically elected head of state, KH. Abdurrahman Wahid 1940 – 2009. Head of Expansive Network The Nahdlatul Ulama boasts an expansive network that covers 30 regions with 339 branches, 12 special branches, 2,630 representative councils and 37,125 sub-branch representative councils across Indonesia. This network practices the doctrine of Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’a, meaning “people of the Sunnah practices of the Prophet Muhammad and the community”. They base their practices on the traditional sources of Islamic jurisprudence—mainly the Qur’an, hadith, and major schools of law. Among its aims are the propagation of Nahdlatul Ulama’s message and also an expansion of its already extensive network of members in Indonesia. This is the basis of many of the organisation’s social reform efforts. With a solid structure of central and regional boards, branch and special branch boards, and various advisory councils, Staquf sits at the top of this influential Sunni movement. Model of Traditionalism With a mainly rural membership base, the Nahdlatul Ulama distinguishes itself from other Islamic organisations in Indonesia by positioning itself as a premier organisation of traditional Islam—with an emphasis on education and political engagement based on Islamic principles. Social Service The Nahdlatul Ulama has made substantial charitable contributions to Indonesian society in the fields of educational development, healthcare, and poverty alleviation. Staquf, like his predecessors, propagates the Nahdlatul Ulama as an organisation that is geared toward establishing a secular nation-state based on a body of modern and moderate Muslims—with agenda items such as anti-corruption laws and social reform measures that are deeply rooted in Islamic principles. Advisor Staquf also served on HE President Joko Widodo’s Presidential Advisory Council, where he advised the President on religious, domestic and international affairs. Staquf co-founded the US-based organisation Bayt ar-Rahmah li ad-Dawa al-Islamiyah Rahmatan li al-Alamin The Home of Divine Grace for Revealing and Nurturing Islam as a Blessing for All Creation, and the Center for Shared Civilizational Values in 2021, both to serve as hubs for the expansion of Nahdlatul Ulama operations in North America, Europe and the Middle East. Ayahnyaadalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra. KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah Beliau.
Saat ini tengah booming penyebutan kata pelacur seiring dengan perseteruan antara salah seorang habib dengan artis ibu kota. Masalah semakin pelik karena masing-masing menyampaikan statemen di media sosial demi menyerang pihak lain. Dan hal tersebut ternyata diikuti sejumlah pengagum dan simpatisan kedua belah pihak. Muncullah kata-kata yang kurang sedap didengar, sebagai upaya menyudutkan pihak lain. Di salah satu postingan yang sudah beredar luas di media sosial memberikan jalan tengah’ dan gambaran. Yakni bagaimana menyikapi kalangan yang tidak diminati, bahkan dianggap sampah sekalipun. Bahkan ujung dari kisah berikut dapat menjadi pelajaran bahwa berdakwah hendaknya dapat dilakukan dengan santun, sehingga menyentuh kalangan yang melakukan pekerjaan buruk sehingga kembali ke jalan yang benar. Adalah KH Ali Yahya Lasem yang terkenal tampan, tegap dan atletis mirip bule. Suatu hari mendapatkan undangan pengajian di Jepara. Dalam perjalanan di kawasan lampu merah, mobil berhenti dan saat itu Kiai Ali duduk di samping sopir dengan melepas serban dan kopiah yang biasa dipakai. Tiba-tiba ada seorang pelacur menghampiri mobilnya. Dia mengira bahwa pria di mobil itu adalah turis. "Malam om,” ujar perempuan itu. “Malam,” jawab Kiai Ali. “Boleh ikut om?,” Kiai Ali Yahya menjawab Boleh-boleh, silakan masuk. Perempuan muda itu bergegas masuk pintu langsung ditutup dan mobil jalan kembali. Di dalam mobil, perempuan muda itu berkata “Mau kemana om, butuh aku gak? Aku temeni sampai pagi ya?” Kiai Ali menjawab dengan tenang sambil mengenakan kembali serban dan kopiahnya ”Ya, ini saya mau ngaji ke Jepara." Perempuan itu sontak kaget dan sadar kalau dia salah mangsa “Oh jadi bapak ini kiai ya?,” Kiai Ali lucu mendengarnya dari panggilan om berubah menjadi kiai. “Maaf kiai, saya tidak tahu,” lanjut perempuan itu yang semakin salah tingkah, pucat dan ketakutan. "Oh ndak apa-apa, santai saja mbak, sekali-kali ikut pengajian bagus,” jawab Kiai Ali santai. Perempuan itu langsung menjawab “Ndak usah kiai, saya turun di sini saja. "Ndak bisa. Tadi sampeyan bilang mau ikut, ya harus ikut,” jawab Kiai Ali. "Tapi saya malu kiai, saya tidak pakai jilbab." Kiai Ali menimpali dengan santai. ”Ndak usah malu, santai saja. Masalah jilbab gampang, nanti tak pinjemkan jamaah." Perempuan itu sudah kehabisan alasan. Begitu tiba di lokasi pengajian, Kiai Ali turun menghampiri jamaah ibu-ibu. ”Maaf bu, bisa pinjam jilbabnya? Ini lho, ibu nyai terburu-burtu ikut saya, sampai lupa tidak bawa jilbab.” Dalam hati jamaah ibu-ibu heran, masa ibu nyai lupa berjilbab? ”Sebentar saya ambilkan pak kiai,” jawab ibu-ibu itu bergegas pergi dan tidak lama kembali dan menyodorkan jilbab ke dalam mobil dan langsung dipakai oleh sang perempuan. Setelah rapi, perempuan itu turun dari mobil dan masyaallah langsung diserbu jamaah ibu-ibu untuk mencium tangannya. “Ngalap berkah,” kata mereka. Perempuan ini langsung disilakan masuk, dijamu dan dilayani sebagaimana ibu nyai. Ada haru campur malu menyelinap di hati dan membuatnya menjadi pucat karena mendapat kehormatan yang demikian besar menjadi ibu nyai dadakan. Setelah pengajian selesai, bu nyai ini dipersilakan untuk menikmati jamuan, dan ibu-ibu mohon doa keberkahan dari ibu nyai. Perempuan itu kaget setengah mati, karena sudah lama dia tidak berdoa bahkan shalatpun lama ditinggalkan. Untungnya dia masih ingat doa ringkas sapu jagat. Sebelum pulang, jamaah ibu bergantian mencium tangannya dan mengantar sang ibu nyhai dadakan itu masuk mobil. Selama perjalanan, perempuan itu menangis tersedu-sedu. Kiai Ali membiarkan hingga reda. Setelah suasana agak tenang, Kiai Ali menasihati. “Apakah sampean tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukan, menghormati, mengantarkan, dan rela juga antri hanya untuk dapat mencium tanganmu satu demi satu bahkan minta berkah doa darimu?" Kembali perempuan itu menangis dan teringat perbuatan dosa yang dilakukan. Tetapi Allah menutup aib, dengan demikian masih sangat menyayangi dirinya. “Hari ini,” lanjut Kiai Ali “Sampean dapat nasihat yang paling berharga selama hidup. Maka segeralah bertobat mohon ampun kepada Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum tobat.” Tangisan kian deras dan Kiai Ali membiarkannya. Sambil terisak wanita itu berkata ”Terima kasih kiai atas nasihatnya dan berkah atas kejadian ini. Mulai hari ini saya tobat dan berhenti dari pekerjaan ini. Sekali lagi terima kasih." Semoga kisah ini semakin meneguhkan kaum muslimin untuk tidak memandang rendah kepada pelacur sekalipun. Bila Tuhan berkehendak, mereka yang dalam keseharian berlumuran dosa pada akhirnya akan kembali menjadi muslim yang baik. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat, dan jangan pernah memandang serta memperlakukan jelek kalangan lain. Wallahu a'lam.
KyaiHaji Yahya Cholil Staquf KH. Yahya Cholil Staquf is a distinguished Muslim scholar and co-founder of the global Humanitarian Islam movement, which seeks to recontextualize (i.e., reform) obsolete and problematic tenets of Islamic orthodoxy that may be readily weaponized to foster religious Dua atau tiga tahun yang lalu beredar cerita di media sosial. Tentang seorang kyai asal Lasem yang bernama Kyai Ali Yahya. Entah siapa yang pertama meriwayatkannya. Yang pasti kisah tersebut menunjukkan betapa bijaksananya sosok kyai kita yang satu ini. Konon Kyai Ali Yahya punya penampilan fisik yang tidak umum. Badannya tinggi tegap, wajahnya tampan. Kalau sorban atau pecinya ditanggalkan, beliau tak terlihat seperti kyai tapi bule dari Eropa. Maka tak mengherankan kalau saat itu banyak kaum Hawa yang terpesona olehnya. Suatu malam Kyai Ali Yahya bertandang ke Jepara. Jarak perjalanan dari kediaman beliau sekitar 114 kilometer. Di sebuah perempatan mobil beliau berhenti karena lampu merah menyala. Saat itulah seorang wanita muda, cantik, dan berdandan menor menghampiri. Wanita tersebut mengira pria di dalam mobil itu pelancong. Seorang bule tajir melintir yang tengah mencari kesenangan di Indonesia. Kebetulan saat itu Kyai Ali Yahya memang sedang melepas peci dan sorbannya. Baca juga Ganyang HTI Sepak Terjang Gus Muwafiq Menghadang Gerakan Khilafah “Malam, Om,” ujarnya, di dekat jendela mobil. “Malam,” jawab Kyai Ali Yahya. “Boleh ikut, Om?” “Oh, boleh, silakan!” Tanpa banyak berpikir wanita itu membuka pintu belakang dan duduk di kursi mobil. Merapikan posisinya, lalu bertanya ke mana pria-pria di depannya menuju. “Aku temenin sampai pagi ya, Om?” ujarnya. Saat itulah Kyai Ali Yahya mengenakan peci dan sorbannya. Lalu mematut-matut wajahnya di spion mobil, dan menjawab bahwa dirinya akan menghadiri acara di Jepara. “Mau ngisi pengajian,” jawab beliau, “ikut saja, gak apa.” Wanita itu geragapan. Tak menyangka pria yang digodanya adalah seorang ulama. Wajahnya tak bisa menutupi rasa takut. Ingin rasanya tiba-tiba menghilang saat itu juga. “Maaf, Pak Kyai, saya tidak tahu. Saya turun di sini saja,” pintanya. “O, gak apa-apa, Mbak. Sekali-kali ikut pengajian kan bagus.” “Saya turun di sini saja …” “Lho gak bisa, Sampeyan tadi kan bilang mau ikut!” “Tapi saya kan gak pakai jilbab.” “Gampang, nanti pinjem jamaah.” “Tapi saya malu, Pak Kyai.” “Mbak,” ujar Kyai Ali Yahya, “Sampeyan jadi wanita penghibur gak malu, ini ikut pengajian kok malu?” Dan wanita itu pun akhirnya pasrah. Baca juga Silaturahmi Gus Dur Dari Orang Pinggiran Sampai Kyai Besar Mobil terus berjalan menuju Jepara. Begitu tiba di tempat tujuan jamaah sudah memadati lokasi pengajian. Sebelum turun, Kyai Ali Yahya memanggil panitia wanita dan meminta jilbab. “Bu Nyai lupa gak pakai jilbab,” kata beliau. Tentu saja aneh. Mana ada istri kyai menghadiri pengajian tapi lupa memakai jilbab? Tapi kebingungan di kepala panitia itu tak dihiraukannya. Apalagi yang meminta adalah kyai undangan. Ia bergegas mencari pinjaman jilbab, tanpa banyak bicara. Setelah turun dari mobil, Kyai Ali Yahya dan wanita itu dijamu tuan rumah. Keduanya duduk di ruangan yang terpisah. Kyai Ali Yahya di ruang depan, wanita itu di ruang belakang. Kyai Ali Yahya lalu sibuk berbincang dengan tuan rumah. Tenggelam bersama jamaah lain dalam percakaan seputar hajatnya. Sementara wanita penghibur itu cemas luar biasa. Seumur-umur baru kali itu ia hadir di pengajian. Sebagai “bu nyai” pula! Ia diperlakukan bak seorang ratu. Diajak berbincang. Dipersilakan menikmati hidangan. Tak seorang pun tahu wanita itu biasa menjajakan dirinya di perempatan jalan. Menggoda pria-pria hidung belang yang melintas dan menawarkan jasa kepada siapa pun yang kesepian. Singkat cerita pengajian Kyai Ali Yahya selesai dan rombongan dari Lasem itu bersiap pulang. Tuan rumah berkali-kali mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka. Jamaah pria di ruang tamu lalu meminta Kyai Ali Yahya memanjatkan doa. Agar keberkahan Allah limpahkan pada mereka dan keluarganya. Jamaah wanita tak mau kalah. Ada “bu nyai” di dekat mereka, apa salahnya meminta barakah doa? Saat itulah sebuah gempa mengguncang hati wanita itu. Tak kuasa ia menolak permintaan sang tuan rumah, sebab kadung diamini oleh para jamaah yang lain. Tapi apa yang bisa ia baca, sebab bahkan salat saja entah kapan terakhir ia kerjakan. Beruntung. Di saat-saat kritis itu sebuah doa dari masa kecil tebersit di kepalanya. Buah ajaran orangtua dan guru mengajinya. Maka tanpa banyak bicara, doa pendek itulah yang ia rapal. Disambut “amin-amin” jamaah yang mengelilinginya. Kyai Ali Yahya lalu memberi kode. Tanda keduanya harus segera beranjak. Jamaah pria pun mengantar beliau hingga ke samping mobil. Begitu pula jamaah wanita, melepas sang “bu nyai” itu hingga ke pinggir jalan. Baca juga Negara Islam Komentar Gus Dur tentang Imajinasi Muslim Garis Keras Kyai Ali Yahya menyalami jamaah pria, lalu mengucapkan salam pamit. Tak mau ketinggalan, wanita penghibur itu juga berpamitan. Tapi tak disangka, jamaah wanita berebut menyalaminya. Mengembangkan senyum tulus di wajah mereka, lalu menciumi tangannya. Gempa susulan yang tak kalah dahsyat mengguncang hati wanita itu. Dalam perjalanan pulang, tak ada suara terdengar dari dalam mobil. Kyai Ali Yahya diam seribu bahasa. Sementara sang supir tampak awas melihat ke depan. Di kursi belakang, wanita penghibur itu tak sudah-sudah menangis sesenggukan. Entah apa yang ada di pikirannya. Sumber foto- Р еሎሦዪиπект ожእ
- Խኑጱкр иւафεдαπኁ